Petani kecil lebih produktif dibanding agribisnis besar

(foto: popSains!com)
Atas nama economic scale, kita sering mengira efisiensi bisa meningkat dengan meningkatnya skala usaha. Namun idiom itu kini diketahui tak selalu benar. Setidaknya dalam hal usaha tani.
Olivier De Schutter, utusan PBB untuk hak atas pangan, menyatakan petani kecil yang mempraktekkan agroekologi bisa lebih diandalkan untuk menjaga ketahan pangan dunia dibanding industri besar. Kesimpulan ini didapatkan dari penelitian di 57 negara yang meliputi 37 juta hektar lahan pertanian.
Dia juga mengatakan agroekologi bisa melipatgandakan produksi hingga dua kali lipat dalam 10 tahun. Sayangnya agroekologi kurang mendapat sokongan dari pemerintah negara-negara.
Saat ini proyek agroekologi menunjukkan peningkatan hasil panen rata-rata 80% di 57 negara berkembang dan 116% di negara-negara Afrika. Di Malawi agroekologi telah mengangkat 1,3 juta rakyat miskin karena peningkatan hasil panen jagung.
Di negara maju seperti Amerika Serikat, perbandingan produktivitas antara petani kecil dengan industri besar menujukkan bahwa petani kecil lebih efisien. Sayangnya data serupa belum tersedia di Indonesia.
Ironisnya pemerintah Indonesia lebih percaya kepada korporasi untuk meningkatkan produksi pangan. Saat ini pemerintah mengandeng perusahaan besar untuk mengembangkan agribisnis raksasa di Merauke yang dikenal dengan food estate.
Di Indonesia, agroekologi atau yang dikenal dengan pertanian berkelanjutan atau pertanian organik hanya menjadi jargon tanpa adanya dukungan nyata. Kalaupun ada, dukungan terhadap kelompok-kelompok petani yang menggalakan agroekologi masih sangat kurang.
Terlihat dari berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah. Subsidi pupuk lebih besar ditujukkan untuk subsidi pupuk kimia. Cara penyalurannya pun tidak langsung kepada petani melainkan lewat industri pupuk.