Pertengkaran orang tua sebabkan bayi susah tidur

(foto: sgilsdorf/flickr)
Masalah dalam perkawinan menyebabkan bayi mengalami kesulitan tidur. Hal ini terkuak dalam penelitian yang dilakukan Jenae M. Neiderhiser, profesor psikologi dari Universitas Penn State.
Pola tidur yang buruk pada bayi 9 sampai 18 bulan dipengaruhi oleh konflik perkawinan mereka. Neiderhisher melakukan penelitian terhadap 357 pasang orang tua angkat. Ia memilih orang tua angkat untuk meniadakan faktor-faktor genetik dari orang tuanya.
Penelitian ini melihat hubungan masalah kesulitan tidur bukan dari interaksi orang tua-anak. Tetapi dengan mengukur indeks stres dalam keluarga.
Wawancara dilakukan terhadap kedua orang tua secara terpisah, yang diukur adalah kebiasaan mereka, emosi dan perilaku anak-anak mereka. Orang tua diwawancarai dua kali, pertama ketika bayi berumur 9 bulan dan yang kedua ketika bayi berumur 18 bulan.
Orang tua diberikan serangkaian pertanyaan, seperti “Pernahkan Anda atau pasangan serius mengusulkan ide perceraian?”. Mereka juga dimintai keterangan untuk menggambarkan perilaku anak mereka sewaktu tidur.
Para peneliti menemukan bahwa orang tua yang mengalami konflik perkawinan pada saat survey pertama (umur bayi 9 bulan), maka bayinya akan cenderung mengalami masalah tidur pada saat survey kedua (umur bayi 18 bulan).
Ketidakstabilan perkawinan berdampak pada perubahan dalam pola tidur anak dari waktu ke waktu. “Penelitian menujukkan bahwa stres dalam keluarga dapat berdampak negatif terhadap pola tidur anak,” jelas Neidershiser.
Ingat perceraian itu dibenci Tuhan!
Makanya akur dong…