4 October 2011 | 12:30 WIB

Kulit katak bisa mengkondensasikan uap air

(foto: wikipedia)

Kulit katak pohon hijau (Litoria sp.) bisa mengkondensasikan uap air dari udara. Katak tersebut menyerap uap air untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh pada musim kering. Fenomena ini terungkap dalam sebuah riset yang dipublikasikan dalam The American Naturalist edisi Oktober ini.

Tim peneliti dari universitas Charles Darwin, Australia, mengamati cara katak pohon hijau bertahan hidup selama musim kering. “Sesekali, kita menemukan katak keluar pada malam hari ketika udara begitu dingin hingga nyaris membuat mereka tak bisa bergerak. Perilaku ini adalah teka-teki yang nyata,” ujar Dr Chris Tracy, salah seorang peneliti. Setelah diamati, ternyata mereka sedang mengumpulkan cairan yang dibutuhkan tubuhnya.

Saat musim kemarau, kondisi hutan savana Australia sangat kering, air susah didapat. Pada malam hari dimana suhu udara sangat dingin, katak akan keluar dari sarangnya untuk mencari air.

Satu-satunya sumber air yang bisa diakses oleh katak adalah uap air yang terdapat di udara. Mereka akan bertengger di dahan selama berjam-jam hingga nyaris membeku. Setelah kulitnya menyerap air mereka kembali ke ruang yang lebih hangat.

Tim peneliti mencatat, ketika katak keluar di malam yang sangat dingin kulitnya akan terdehidrasi dan mengeluarkan 0,07 gram air. Namun air yang keluar diganti dengan kemampuan kulit katak untuk mengkondensasi uap air di udara sebanyak 0,4 gram. Total air yang didapat katak selama proses kondensasi setara dengan 1 persen dari berat tubuh totalnya.

Hebatnya lagi, kemampuan kondensasi kulit katakĀ  bisa menyerap 60 persen dari setiap tetes air yang ada di udara. “Ketika tidak ada sumber air, setiap tetes kecil air sangat menentukan hidup dan mati selama musim kemarau,” ujar Tracy.

Tulis komentar