Ditemukan fosil buaya kuno mirip mamalia

(foto: Mark Witton/University of Portsmouth)
Sekelompok ahli palaentologi Universitas Ohio, Amerika Serikat, menemukan fosil buaya berumur 105 juta tahun di tepian sungai berkapur di wilayah Tanzania. Temuan ini dilaporkan dalam jurnal Nature edisi 5 Agustus lalu. Dalam laporannya, para ilmuwan menamakan hewan ini Pakasuchus kapilimai.
Setelah diteliti fosil buaya ini terlihat janggal, karena memiliki susunan gigi mirip mamalia. Postur tubuhnya pun terlihat lebih ramping dan singset. Ukurannya relatif kecil, hanya sebesar kucing. “Pada pandangan pertama, buaya ini seperti sedang berusaha keras untuk menjadi mamalia,” ujar Patrick O’Connor, salah seorang peneliti.

(foto:Patrick O'Connor/Ohio University)
O’Connor berpendapat demikian setelah mengetahui susunan gigi si buaya. Berbeda dengan buaya modern, susunan gigi Pakasuchus lebih menyerupai susunan gigi mamalia. Terutama mamalia yang berevolusi dari zaman Mesozoikum ke Kenozoikum.
Meski binatang ini memiliki susunan gigi mirip mamalia, para peneliti yakin Pakasuchus merupakan jenis crododylians. Ini terlihat jelas dari struktur tulang punggung, ekor hingga ke tengkorak.
Para ahli menganalisis tengkorak Pakasuchus yang terbungkus pasir batu merah. Mereka menggunakan tomografi sinar-X untuk mengungkap rincian gigi dan tengkorak. Dengan teknologi tersebut berhasil diungkap postur tubuh, kebiasaan makan dan sifat-sifat lainnya. Para peneliti juga berhaisl menciptakan gambar animasi digital Pakasuchus.
Buaya ini diperkirakan berasal dari periode Cetaceous. Dari hasil temuan ini para peneliti meyakini dimasa lalu terdapat berbagai jenis buaya yang lebih beragam. “Kehadiran buaya dengan morfologi aneh memiliki implikasi ekologis mendalam,” ujar Yusuf Sertich dari Universitas Sony Brook.

(foto: Zina Deretsky/National Science Foundation)